Wortelina si Wortel Penari

Wortelina si Wortel Penari

Wortelina adalah sebuah wortel yang kecil, tetapi sangat lincah. Ia sangat senang menari. Setiap pagi, sehabis Pak Tani menyiramnya, ia selalu menyapa teman-temannya, kemudian ia melakukan tarian Selamat Pagi.

Begitu juga ketika siang hari, sore hari dan malam hari.

Wortelina selalu menari-nari. Senyumnya selalu sumringah.

Warga kebun wortel juga sangat menyukai tarian Wortelina.

Tetapi, suatu hari, Wortelina tidak seriang biasanya.

Ketika pagi ia hanya tersenyum jika ada yang menyapanya.

Wuwi, sahabat baiknya, khawatir melihat keadaan Wortelina yang sangat murung.

"Ada apa, Lina?" tanya Wuwi khawatir.

"Tidak apa-apa, Wuwi. Aku hanya lemas dan tidak bersemangat. Aku pun tidak mengerti mengapa aku seperti ini," ujar Wortelina sambil tersenyum kecut.

"Aku ingin kamu menari! Ayo, berikan tarian untukku, untuk kebun wortel sebelum makan siang hari ini!" Wuwi mencoba menyemangati Wortelina.

Wortelina hanya menggeleng lemah. Ia sungguh-sungguh tidak bersemangat.

Badannya terasa lemas. Kepalanya berat sekali.

Wuwi tidak putus asa. Ia mencari akal agar Wortelina kembali seperti biasanya.

Diam-diam, ia menyuruh para burung yang sedang bermain di atas pohon untuk bernyanyi.

Burung-burung itu setuju. Mereka bernyanyi dengan suara merdua dan riang.

Wuwi mengintip rumah Wortelina. Ia ingin mengetahui apakah Wortelina bereaksi terhadap nyanyian para burung itu.

Namun, Wortelina tetap terlihat murung. Matanya sayu.

Ada apa sebenarnya, Lina?

Wuwi ternyata tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba cara lain untuk mengembalikan kecerian Wortelina seperti biasanya.

Kali ini, ia mencoba meminta bantuan Wiri. Wiri sangat pandai sulap.  Ia ingin Wiri menyulap agar semua warga bisa menari. Dengan begitu, Wortelina pasti akan bersemangat kembali.

Wiri sebenarnya anak yang rajin dan sulapnya cukup hebat, tetapi sulap yang dilakukan Wiri hanya itu-itu saja.

Warga kebun Wortel bosan melihatnya. Wiri juga suka menyombongkan dirinya bila sedang melakukan sulap.

Ia jadi kurang disukai oleh warga kebun Wortel.

"Aku tidak mau melakukan itu!" tolak Wiri.

Wuwi kaget. Ia tidak menyangka Wiri menolak permintaan tolongnya.

"Kenapa? Bukankah kita semua bersahabat? Mengapa kamu tidak mau menolong sahabatmu yang sedang kesulitan, Wiri?" tanya Wuwi dengan nada kecewa.

"Dia bukan sahabatku! Dia telah meracuni semua warga kebun ini! Ia membuat semua warga terpikat padanya, lalu membenci aku!" Wiri berkata dengan nada ketus.

Astaga! Ternyata, Wiri iri melihat ketenaran Wortelina...

"Begini saja, aku akan menjamin setelah kau membantuku untuk memulihkan keceriaan Wortelina, kau pasti juga akan disukai oleh warga Kebun Wortel,"  Wortelina berkata kepada Wiri.

Ia punya ide!

Wiri langsung terhasut mendengar bujukan Wuwi. Matanya berbinar. Ia sangat ingin sekali semua orang menyenanginya.

Wiri lalu melakukan apa yang Wuwi perintahkan.

Wiri menyulap tumpukan pupuk yang bertumpuk di sudut kebun Wortel menjadi sebuah panggung kecil. Ia juga menyulap daun-daun kering menjadi hiasan panggungnya.

Tidak lupa ia menyulap semua warga kebun Wortel menjadi bisa bernyanyi.

Seketika kebun Wortel ramai. Semua warga menyanyikan lagu yang sangat bagus dan merdu.

Semua tampak riang gembira. Mereka bernyanyi sambil sesekali menari kecil. Mengikuti alunan irama yang sangat indah.

Wortelina terlonjak kaget. Ada apa di luar? Mengapa ramai sekali? Ia lalu melongok ke arah sumber suara.

Ia semakin kaget lagi melihat semua warga Kebun Wortel sedang berjalan ke arah rumahnya sambil menari kecil dan bernyanyi.

Seketika senyumnya merekah. Ia sangat ingin ikut menari dan bernyanyi, tetapi ia urungkan niatnya. Ia hanya mematung di tempatnya berdiri. Ia melihat Wiri diantara rombongan itu.

"Hai, Wortelina! Apa kabar? Maafkan aku, ya! Aku sudah salah dengan menyebarkan fitnah bahwa tidak ada warga yang suka kepadamu. Aku juga bohong mengenai warga yang selama ini kusulap agar mereka suka kepadamu. Aku hanya iri kepadamu. Sekarang, ayolah kemari. Aku telah menyiapkan kejutan untukmu!" Wiri berteriak dengan riang membujuk Wortelina. Suaranya hampir tenggelam oleh nyanyian warga.

Wortelina terkejut. Ternyata semua ini hanya akal-akalan Wiri saja.

Ia pun memaafkan Wiri. Ia tidak lagi sebal kepada Wiri. Ia malah iba melihat Wiri yang kurang disukai warga sehingga memfitnah dirinya.

Wortelina pun mempunyai ide. Ia ingin tidak hanya dirinya yang menjadi kebanggan warga tetapi Wiri juga harus menjadi kebanggaan.

Wortelina tersenyum hangat. Ia bergabung dengan rombongan warga Kebun Wortel dan ikut menari. Mereka berjalan sambil menari ke arah panggung yang telah disiapkan Wiri untuk Wortelina.

"KEJUTAAAAAN!" seru Wiri bersemangat.

Tidak hanya Wortelina yang kaget melihatnya, tetapi juga semua warga Kebun Wortel sangat kaget. Mereka sangat kagum dengan hasil sulap Wiri.

"Wiri, kau hebat sekali. Mari temani aku menari di atas panggung itu," Wortelina menarik Wiri ke atas panggung.

"Hai, semua! Aku sangat terharu melihat kalian menyemangatiku hari ini. Aku juga sangat berterima kasih kepada Wiri. Panggung ini hasil sulapannya. Ia benar-benar pesulap yang pintar. Selain itu, Wiri akan melakukan kehebatannya yang lain, lho. Wiri, ayo lakukan tugasmu!" ujar Wortelina kepada Wiri. Senyumnya mengembang.

Wortelina membisikkan sesuatu kepada Wiri untuk melakukan idenya.

"Wah! Hebat sekali!"

"Indahnya!"

"Kau hebat Wiri. Kami bangga kepadamu!"

Semua warga berseru memuji kehebatan Wiri.

Wiri menyulap kebun wortel mereka menjadi indah dan bersih. Banyak hiasan di mana-mana. Wiri juga membuat sebuah pagar indah yang melindungi kebun mereka dari serangan hewan liar. Tidak lupa, Wiri membuat pintu gerbang yang lucu dan unik di depan kebun mereka.

Burung-burung pun ia buatkan sarang yang indah dan nyaman agar setiap pagi bisa bernyanyi untuk menumbuhkan semangat warga Kebun Wortel.

Wiri tidak menyangka ternyata dengan hati yang tulus ia bisa melakukan semuanya. Kini, semua warga tidak lagi sebal kepadanya. Wiri tidak lagi sombong. Ia menjadi wortel yang sangat menyenangkan dan senang membantu warga lainnya.

Wuwi pun tersenyum puas. Kebunnya kembali ceria seperti biasa. Wortelina kembali riang dan senang menari, tetapi kali ini ditemani nyanyian para burung yang merdu.

Indahnya bila kita melakukan suatu hal dengan hati yang tulus.

(Rahmi Ramadhani/Kidnesia.com)

Author

Sigit Wahyu

Tags

Related Article