Tulang Ikan Pelangi

Tulang Ikan Pelangi

Pada zaman dahulu, di Lautan Selatan ada sebuah pulau kecil. Di pulau itu tinggallah tujuh gadis kakak beradik. Ayah ibu mereka sudah meninggal. Karena itu Gadis Sulunglah yang mengatur semua adiknya. Ia membagi tugas pada keenam adiknya. Tetapi, tugas terberat selalu diberikan pada Gadis Bungsu. Setiap hari Gadis Bungsu harus pergi ke hutan mencari kayu bakar.

ikan
ilustrasi : clipart
     Suatu siang yang panas, Gadis Bungsu mencari kayu di hutan. Peluhnya bercucuran. Di punggungnya ada seikat kayu bakar. Tetapi kayu itu belum cukup. Ia harus mencari kayu lagi. Di dekat jalan yang dilaluinya, mengalirlah sebuah sungai. Airnya jernih. Di pinggir sungai itu tumbuh pohon-pohon yang rindang. Jika sudah lelah, biasanya Gadis Bungsu berbaring di bawah pohon itu. Tetapi, kali ini ia ingin sekali berenang. Karena itu ia cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Lalu ia kembali ke sungai dan berenang.

      Sementara asyik berenang, tiba-tiba ia melihat seekor ikan yang sangat cantik. Ikan itu kecil, berwarna-warni seperti pelangi. Warna-warnanya berkilau indah sekali. Ikan pelangi itu berenang melewati Gadis Bungsu. Dengan lembut ia menangkap si ikan. Lalu cepat-cepat dibawanya ke sebuah genangan air yang mirip sebuah kolam. Airnya sangat jernih. Ikan pelangi lalu dilepas di situ. Gadis Bungsu lalu kembali ke rumahnya.

      Pada waktu makan malam, Gadis Bungsu hanya makan setengah piring nasi. Setengahnya lagi ia sembunyikan. Diam-diam dibawanya nasi itu ke kolam tempat ikan pelangi. Nasi itu dijatuhkannya sebutir demi sebutir ke dalam kolam. Ikan pelangi menyantap semua nasi yang diberikan.

      Sejak saat itu Gadis Bungsu selalu membawa separuh nasinya untuk ikan pelangi. Setiap kali datang membawa nasi, ia memanggil si ikan dengan bernyanyi. Ikan pelangi sudah hafal suara merdu Gadis Bungsu. Jika mendengar nyanyian Gadis Bungsu, si ikan segera muncul di permukaan kolam.

      Hari-hari berlalu dengan cepat. Ikan pelangi tumbuh menjadi besar dan gemuk. Sebaliknya, Gadis Bungsu menjadi semakin kurus dan lemah. Ia tidak kuat lagi memotong dan memikul kayu bakar. Keenam kakaknya menjadi curiga. Mereka lalu berunding. Akhirnya salah satu dari mereka diutus untuk mengikuti Gadis Bungsu.

      Pada suatu hari, gadis yang diutus itu melihat Gadis Bungsu memberi makan ikan. Gadis ini bercerita tentang ikan gemuk peliharaan Gadis Bungsu pada kelima saudaranya. Gadis Sulung lalu menyusun rencana. Gadis Bungsu disuruhnya mencari kayu di tempat yang lebih jauh. Dengan demikian, Gadis Sulung dapat menangkap ikan pelangi. Ikan pelangi itu lalu dimasak untuk makan malam.

      Keesokan harinya, seperti biasa Gadis Bungsu pergi ke kolam ikan pelangi. Ia menyanyi memanggil ikan itu. Tetapi, ikan pelangi tidak muncul-muncul. Gadis Bungsu menyanyi lagi dua, tiga kali. Tetapi si ikan tidak juga muncul.

      "Ikan itu tidak mungkin mati. Kalau mati, pasti tubuhnya mengambang," pikir Gadis Bungsu. Ia melihat ke dalam kolam dengan teliti. Ternyata ikan pelangi memang tidak ada. Gadis Bungsu sangat sedih. Ia kembali ke rumahnya dengan kecewa. Karena sedih, Gadis Bungsu tidur dengan nyenyak selama beberapa hari.

      Suatu hari Gadis Bungsu terbangun ketika mendengar ayam jantan berkokok. Anehnya ia bisa mengerti arti kokokan ayam itu.

      "Kukuruyuuk. Kakak-kakakmu membunuh dan memakan ikan pelangi. Tulangnya dibuang di abu sisa pembakaran ..." teriak ayam jantan.

      Dengan hati-hati Gadis Bungsu menggali abu sisa pembakaran kayu api. Ia menemukan tulang-tulang ikan pelangi. Gadis Bungsu lalu mengumpulkan tulang-tulang itu, lalu menguburnya di samping kolam. Sambil mengubur tulang-tulang, Gadis Bungsu menyanyi,

      Di sini, di tempat ikan pelangi dikubur, semoga tumbuh sebatang pohon,

      sebatang pohon yang tinggi menjulang, menyentuh langit.

      Dan biarlah pohon ini menggugurkan daun-daunnya, hingga seorang raja akan tahu di mana dan mengapa daun-daun itu tumbuh...

      Hari-hari pun berlalu. Keenam kakak Gadis Bungsu sudah lupa pada ikan pelangi. Gadis Bungsu pun tidak kurus lagi. la kembali sehat dan kuat, sebab tak lagi membagi makanannya. Namun, Gadis Bungsu tidak pernah lupa pada ikan pelanginya. Setiap kali mencari kayu, ia selalu datang ke kuburan ikan pelangi. Sesuai dengan lagu Gadis Bungsu, di atas kuburan itu tumbuh pohon. Pohon itu istimewa dan sangat indah. Batangnya terbuat dari besi. Daunnya dari sutera, bunganya dari emas dan buahnya dari berlian.

      Pada suatu hari, angin bertiup cukup kencang. Selembar daun pohon itu diterbangkan angin, menyeberang lautan. Daun itu jatuh di sebuah pulau terdekat. Seorang raja menemukan daun itu dan berkata, "Aku harus mencari pohon yang berdaun indah ini. Akan kucari dari pulau ke pulau ..."

      Tetapi, Raja ini cukup beruntung. Di pulau pertama yang didatanginya ia langsung menemukan pohon yang dicari. Daun-daun di pohon ajaib itu sama dengan daun yang ditemukannya.

      "Pohon apa ini? Bagaimana bisa tumbuh di sini?" tanya Raja pada seorang anak kecil yang sedang bermain di hutan.

      "Saya tidak tahu, Baginda," jawab anak itu. "Ada tujuh gadis bersaudara tinggal tak jauh dari sini. Mungkin mereka tahu."

      "Bawalah mereka ke sini," perintah Raja.

      Anak itu kemudian berlari menemui keenam kakak Gadis Bungsu.

      "Seorang raja tampan dari seberang lautan, ingin bertemu dengan kalian. Ayo cepat!"

      Mendengar hal itu keenam gadis itu tergesa-gesa berlari ke hutan. Meninggalkan Gadis Bungsu di dapur. Ia harus tetap menjaga api dan memasak untuk makan malam.

      Keenam kakak Gadis Bungsu kemudian bertemu dengan raja. Raja bertanya pada mereka. Tetapi, tak satu pun dari mereka yang tahu tentang pohon ajaib itu.

      "Kata anak laki-laki ini, kalian tujuh bersaudara. Mana yang satu lagi?" tanya Raja.

      "Oh, yang paling bungsu ada di rumah. Tapi, ia tidak tahu apa-apa. Kerjanya cuma mencari kayu. Lagipula mungkin ia sedang tidur sekarang," jawab keenam gadis itu bersama-sama.

      "Hhmm. Bagaimanapun, bawalah ia ke sini," perintah Raja. Anak laki-laki tadi kembali berlari memanggil Gadis Bungsu.

      Ketika Gadis Bungsu datang, terjadilah hal yang menakjubkan. Pohon ajaib itu merunduk sampai ke tanah. Sehingga Gadis Bungsu dapat memetik daun, bunga, dan buah pohon itu. Semua itu lalu diberikan kepada Raja.

      "Gadis ini dapat melakukan hal yang ajaib. Dan lagi ia sangat cantik. Ia pantas untuk menjadi ratu," pikir Raja.

      Raja kemudian melamar Gadis Bungsu untuk menjadi permaisurinya. Gadis Bungsu dibawanya menyeberangi lautan dan tinggal di istana di pulaunya. Mereka hidup bahagia sampai akhir hayat. ***

Terjemahan bebas oleh: V. Parengkuan Dari "The Bones of Djulung"

Sumber : Majalah Bobo

 

Author

Reni Yaniar Kidnesia

Tags

Related Article