Operasi Semut

Kerjasama koloni semut.

Sesi si Semut sedang sibuk berputar-putar di halaman rumahnya. Apa sih yang sedang ia lakukan? Mengapa Sesi terlihat sibuk sekali? Sisi si Semut penasaran sekal melihatnya.

"Sedang apa, sih, Sesi?" Sisi bertanya.

"Ah, Sisi! Apa kabar?" Sesi malah menyapa Sisi dengan ramah. Dia sengaja tidak menjawab pertanyaan Sisi karena yang ia lakukan ialah sebuah kejutan untuk desanya.

"Kabarku baik saja, Sesi. Kau yang apakabar? Kau jarang sekali terlihat di desa sini," ujar Sisi kepada Sesi yang masih saja sibuk berputar-putar.

Melihat Sesi yang asik sendiri, Sisi bosan. Ia akhirnya meninggalkan Sesi sendirian dan pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Sisi berjalan dengan sangat tidak nyaman.

"Uh, bau sekali, sih, desa ini!" keluh Sisi. Ia menutup hidungnya menghindari bau yang sangat menyengat.

"Ini pasti karena banyak sampah yang dibuang sembarangan. Sampah ada di mana-mana pantas saja desa ini bau!" tambah Sisi lagi.

Esok harinya, ternyata, Sesi mengunjungi rumah Sisi. Sisi kaget. Kemaren, Sesi sangat cuek terhadapnya. Ah, mungkin Sesi ingin meminta maaf, pikirnya.

"Kau sedang apa? Mau kah kau menolongku, Sisi?" Sesi bertanya sangat ramah.

"Tentu saja. Bukankah kita ini berteman? Apa yang bisa ku bantu, Sesi?" ujar Sisi tidak kalah ramah.

Keduanya tersenyum. Ah, sebenarnya Sisi sangat merindukan Sesi. Akan tetapi, Sesi itu salah satu aktivis lingkungan. Ia sibuk pergi ke luar kota untuk mengurusi lingkungan-lingkungan yang kurang terurus.

 

semut
 

"Ketika aku pulang. Aku kaget sekali melihat desa kita ini. Sampah di mana-mana. Bau menyengat tersebar. Ini sama sekali tidak nyaman. Tempat tinggal kita harus asri dan sehat agar penyakit tidak berdatangan..." Sesi berhenti. Ia tampak seperti memikirkan sesuatu.

"Kenapa, Sesi? Ayo lanjutkan!" pinta Sisi yang mulai penasaran.

"Aku sadar. Aku pergi ke luar daerah untuk mengurusi lingkungan agar asri, tetapi ketika aku pulang, lingkunganku sendiri malah kacau seperti ini. Seharusnya aku mengurusi lingkunganku dulu. Karena langkah yang baik ialah dari diri kita dan lingkungan tempat tinggal kita dulu. Aku sedih, Sisi," Sesi bercerita dengan muka yang sangat sedih.

Sisi sangat iba melihatnya.

"Ya, aku mengerti. Sudahlah. Yang penting kau sudah sadar. Sekarang apa yang bisa aku bantu? Aku tidak sabar. Ayolah, kita benahi lingkungan kita ini!" ujar Sisi dengan semangat.

Mendengar dukungan dari sahabatnya Sesi menjadi semangat kembali. Ia juga tidak sabar melakukan kegiatan ini bersama Sisi dan semua warga semut lainnya.

"Jadi begini, Si! Aku berencana mengurangi sampah di desa ini dengan cara operasi semut!"

"Apa itu operasi semut? Ah! Aku tidak mau dioperasi!" Sisi ketakutan.

"Hahaha. Bukan , Sisi! Operasi semut hanyalah istilah. Jadi, kita setiap kemana-mana kita harus membuang sampah kita masing-masing. Jika kita lihat ada sampah di dekat kita, kita harus membuangnya ke tempat sampah. Tidak peduli sampah siapa itu. Pokoknya, kita harus membuang sampah pada tempatnya!" jelas Sesi semangat.

"Wah, ide yang bagus!" seru Sisi. "Aku pun sudah gerah melihat desa ini. Desa ini harus mengalami perubahan!" lanjut Sisi.

"Baiklah. Aku sudah menyusun rencana dan rancangan di mana saja ada tempat-tempat sampah dan siapa saja yang bertugas mengumpulkan sampah ke pembuangan akhir setiap harinya. Kita harus bekerja sama agar bisa mengatasi ini semua. Karena, bila aku saja yang bekerja aku tidak akan sanggup!" ujar Sesi.

"Ya! Tentu saja. Kita memang harus bekerja sama dan bersatu agar semuanya mudah dan ringan dikerjakan. Yaayyy! Semangat!" Sisi berkata sambil sesekali melompat-lompat kecil.

"Besok kita akan umumkan operasi semut ini ke seluruh warga, ya! Semoga misi kita kali ini berjalan lancar dan berhasil. Terimakasih, Sisi, kau sudah mau membantuku," ucap Sesi berterimakasih.

"Ah, santai saja. Kita kan sahabat. Lagipula, aku juga merasakan ketidaknyamanan desa ini, kok. Pokoknya aku siap membantumu!" Sisi selalu bersemangat.

Mereka berdua tertawa. Ah, senangnya kalau kita bisa bersatu dalam membersihkan lingkungan.

(Rahmi Ramadhani/Kidnesia.com)

Author

Sigit Wahyu

Tags

Related Article