Kodok di Kamar Mandi

Kodok di Kamar Mandi

"Mama...!" teriak Santi dari arah kamar mandi. Mama yang sedang menata piring untuk sarapan pagi, terkejut. Cepat-cepat Mama berlari ke arah suara itu.

Di depan kamar mandi, ditemuinya Santi dengan wajah pucat pasi. Handuknya terjatuh, lututnya gemetar!

"Ada apa, Santi?" tanya Mama bingung. Santi masih diam, belum lepas dari rasa terkejutnya.
"Santi!" kata Mama sambil menepuk pipinya untuk menyadarkan Santi dari keterkejutannya.

"Mama, oh. Mama!" ujar Santi yang langsung memeluk mamanya. "Mama, ada kodok di kamar mandi! Santi takut, Santi takut..." kata Santi dengan air mata yang mulai berlinangan.

"Oooh Mama kira ada apa, Santi. Mama kira Santi terjatuh atau terluka!" kata Mama sambil membelai rambut Santi yang panjang.

"Mama, Santi tidak mau mandi. Santi takut... Huuu, huuu," Santi menangis tersedu.
"Sudahlah, sayang. Mana kodoknya? Biar Mama yang mengusirnya. Cup sayang!" Mama iba juga melihat Santi yang begitu ketakutan.

Kodok hijau yang agak besar itu masih berdiam di dekat pintu. Matanya yang besar dan melotot itu seperti mau menelan Santi. Pantas saja Santi berteriak ketakutan melihat wajah kodok itu.

Mama berhasil mengusir kodok itu. Tetapi Santi masih tetap ketakutan. Ia tidak mau mandi.
"Ayo dong, Santi. Nanti kau terlambat tiba di sekolah," kata Mama membujuk Santi.
"Tidak mau! Nanti kodoknya masuk lagi!" kata Santi keras kepala.

Maka hari itu Santi sekolah tanpa mandi. Hanya cuci muka saja. Sebetulnya Mama tidak suka kalau Santi tidak mandi, tetapi Mama tidak bisa memaksanya. Santi begitu terkejut, dan takut pada kodok.

Sorenya Santi masih tetap tak mau mandi. Mama hampir marah dibuatnya. Sudah sejak satu jam yang lalu Mama berusaha membujuk Santi. Tetapi sia-sia saja.

Ketika Papa pulang dari kantor, Santi berhasil dibujuk untuk mandi. "Santi, tadi pagi kau hanya terkejut. Papa sebetulnya tahu, anak Papa pemberani. Kalau pengecut, Santi bukan anak Papa!" ujar Papa sambil memangku Santi.

 "Papa juga waktu kecil takut dengan kodok. Malah Papa sampai terkencing-kencing kalau melihat kodok. Santi tahu kan, di sekitar rumah Eyang masih banyak sawah. Karena itu kalau musim hujan, banyak kodok yang masuk ke dalam rumah!" kata Papa sambil bercerita tentang masa kecilnya.

"Tetapi lama kelamaan Papa tahu, kodok itu tidak jahat. Bahkan kalau malam, kodok suka bernyanyi. Suaranya cukup merdu, walaupun tak semerdu suara Chicha," kata Papa bergurau.

Santi ikut tersenyum mendengar lelucon Papa. Lalu Papa melanjutkan ceritanya; "Kalau malam Papa tidak bisa tidur, Papa tidak merasa takut. Karena kodok-kodok itu dengan setia bernyanyi sepanjang malam. Dengan demikian Papa asyik mendengarkan nyanyian kodok sampai tertidur," kata Papa mengakhiri ceritanya.

"Jadi kodok tidak jahat, Pa?" tanya Santi.
"Sama sekali tidak. Hanya mukanya saja yang agak menakutkan. Dan satu hal lagi, Santi," tambah Papa, "kodok itu memakan nyamuk. Jadi dia membantu manusia juga!"

"Tapi tadi pagi Santi terkejut sekali, Pa!" kata Santi membela diri.
"Ya, Papa tahu. Tapi sekarang Santi tidak perlu takut lagi. Ingat! Kodok tidak jahat. Santi mengerti?" ujar Papa sambil mencium pipi Santi. "Sekarang mandi ya, nona kecil!"

Tanpa disuruh lagi, Santi melompat dari pangkuan Papa. Ia langsung mengambil handuk. Sebentar kemudian, terdengar suara Santi bernyanyi sambil mandi. (ef)

Diambil dari Majalah Bobo no.2/Thn. 1982

 

Logo Bobo

 

Author

Sigit Wahyu

Tags

Related Article