Kecil dan Lemah Tetapi Cerdik

Kelinci yang lucu.

Seperti sudah diatur oleh alam, setiap binatang mengenal siapa musuh-musuh yang membahayakan jiwanya. Begitu juga dengan si kelinci kecil.

Dia tahu, bahwa sejak musim semi yang lalu, serigala abu-abu itu selalu mencari kelengahannya. Karena itu, ia perlu waspada dan berjaga-jaga.

Untuk melindungi dirinya, kelinci telah membuat sebuah gua yang cukup dalam, dengan pintu kecil yang hanya cukup untuk dirinya saja.

Mulut gua itu ditutupnya dengan kayu, yang kemudian dipasaknya dari dalam.

Pada suatu sore, ketika kelinci sedang berbaring di atas rumput kering di dalam rumahnya, ia mendengar suara kemersik di luar pintu. Kedua telinganya tegak lurus untuk meneliti suara apakah itu gerangan.

"Kelinci yang manis," suara dari luar itu terdengar jelas. Kini tahulah kelinci, bahwa si serigala abu-abu ada di luar rumahnya.

"Keluarlah sebentar, aku ingin bersahabat denganmu."
"Maaf kak serigala," jawab kelinci ramah.

"Sore ini aku merasa tidak begitu sehat. Aku tidak dapat berjalan sampai ke pintu itu." Serigala marah mendengar jawaban itu, tetapi mencoba menyabarkan hati, katanya.

"Baiklah. Sebenarnya aku hendak memberi kabar kepadamu, bahwa aku baru saja menemukan kebun mentimun yang besar-besar buahnya. Jika kau mau, besok pagi kita dapat ke kebun itu bersama-sama."

"Oh, baik sekali. Di manakah ladang mentimun itu?"

"Di sebelah timur sungai tua itu. Setujukah kau kujemput jam lima pagi."
"Baik. Kutunggu kau jam lima pagi."

Keesokan harinya, serigala datang menepati janji. Ia mengetuk pintu rumah kelinci serta berseru:

"Ayo bangun! Kita ke ladang mentimun."
"Aduh kak Serigala," sahut kelinci dari dalam.

"Semalam aku tidak dapat tidur, sehingga aku keluar berjalan-jalan, sampai akhirnya tiba di ladang mentimun itu. Timun-timun itu besar-besar dan masih muda lagi aku telah membawa pulang cukup untuk seminggu."

"Hm, tidak apa," kata serigala menahan marah.

"Mudah-mudahan masih kausisakan beberapa untukku. Tetapi tahukah kau, bahwa di sebelah selatan hutan ini, pohon-pohon apel mulai berbuah? Besar-besar dan merah tua. Jika kau tidak menipuku lagi, kita dapat berpesta di sana."

"Tentu kak Serigala. Aku tak bermaksud menipumu. Datanglah besok pagi jam lima, dan kita akan ke kebun apel bersama-sama."

"Tetapi tidak dapatkah kau keluar sebentar beromong-omong denganku di sini?"
"Sabarlah kak Serigala," sahut kelinci yang cerdik itu.

"Bukankah besok pagi kita sudah akan bertemu dan dapat berbicara sepuas hati?"

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, kelinci telah keluar dari sarangnya, menuju ke kebun apel, dengan harapan akan dapat kembali sebelum serigala menjemputnya.

Tetapi ia terlalu asyik menikmati buah apel yang ranum-ranum itu, sehingga akhirnya ia sangat terkejut ketika melihat serigala berjalan perlahan-lahan menuju ke arahnya.

Kelinci tahu kalau ia tidak sepandai tupai memanjat. Tetapi itulah satu-satunya tempat yang aman. Karena itu, tanpa berpikir panjang, ia pun segera memanjat pohon itu. Dan berhasil.

"Aku sudah menduga, pasti kau menipuku lagi," kata serigala dengan suara yang memperlihatkan kemarahan.
"Aku sengaja mendahuluimu," jawab kelinci dengan ramah, "supaya aku dapat memilih apel-apel yang paling ranum untukmu."

"Hm, kalau begitu, buktikan kata-katamu itu."
"Ini! Cobalah rasakan satu, yang besar dan masak sekali. Telah kupilihkan yang paling lezat untukmu."

Berkata demikian, kelinci memetik sebuah apel yang besar dan ranum, serta melemparkannya ke bawah. Tetapi ia melemparkannya terlalu jauh, sehingga buah apel itu menggelinding ke pereng. Serigala abu-abu segera mengejarnya.

Nah, pada saat itulah kelinci meluncur turun dari pohon, terus berlari sekuat-kuatnya di antara semak-semak yang lebat, kembali ke sarangnya.

Nafasnya tersengal-sengal karena takut dan lelah. Tetapi ia harus segera mengancing pintu serapat-rapatnya, karena ia tahu, pasti serigala itu sangat marah karena telah tertipu olehnya.

"Sejak saat ini," kata kelinci pada dirinya sendiri, "aku harus semakin hati-hati bila keluar mencari makan."

oleh Rohyati Salihin
Diambil dari Majalah Bobo

 

Logo Bobo

 

Author

Sigit Wahyu

Tags

Related Article