Asal Mula Nyamuk Kecil

Asal Mula Nyamuk Kecil

Dahulu kala, manusia mempunyai tubuh kecil. Cuma sebesar nyamuk. Sedangkan badan nyamuk sebesar manusia sekarang. Manusia dan nyamuk saling berteman. Keduanya merupakan sahabat karib.

      Pada suatu hari, seorang wanita menghadap Raja Nyamuk. Perempuan itu bertubuh mungil. Namun, parasnya amat cantik. Ujar wanita itu, "Ampun, Paduka. Hamba adalah seorang yang kecil dan tak berarti. Bolehkah hamba mengajukan sebuah permohonan?"

      "Tentu. Apa yang kauinginkan? Emas? Permata? Kau boleh mengambil benda-benda itu dari gudang perhiasanku!" jawab Raja.

      "Hamba tidak ingin benda-benda itu, Paduka!"

      "Lalu?"

nyamuk
Ilustrasi : Clipart
      "Hamba ingin meminjam zat emas yang terdapat pada tubuh para nyamuk!" tutur wanita itu.

      "Apa?" pekik Raja terkejut.

      Ketika itu, zat emas amat berarti bagi para nyamuk. Berkat zat emas itu, tubuh nyamuk bisa tumbuh menjadi besar.

      "Maafkan hamba, Paduka. Karena ingin mempunyai tubuh besar, hamba memberanikan diri untuk memohon pada Paduka. Hamba tidak bermaksud membuat Paduka murka!"

      Raja Nyamuk nampak berpikir.

      "Paduka, kabulkanlah permohonan hamba. Sekali ini saja. Bukankah Paduka adalah sahabat manusia?" pinta wanita itu.

      "Berapa lama kau ingin pinjam zat emas itu?" tanya Raja.

      "Seminggu, Tuanku."

      "Aku tidak bisa memberi jawaban sekarang. Kau boleh menghadap aku seminggu lagi!" janji Raja.

      'Terima kasih, Paduka."

      Wanita itu lalu pulang. Raja sibuk berpikir. Kemudian, ia mengutus patihnya untuk mengumumkan siapa di antara rakyat nyamuk yang bersedia meminjamkan zat emas kepada manusia.

      Tidak seekor nyamuk pun yang bersedia. Mereka enggan bertubuh kerdil seperti manusia. Raja menjadi murka. Raja menganggap rakyatnya tidak setia. Lalu, Raja bersabda, "Baik. Demi sahabatku, aku rela meminjamkan zat emas dalam tubuhku."

      Rakyat nyamuk amat malu. Mereka terkejut mendengar keputusan Raja. Namun, dalam hati mereka juga menyesalkan kebodohan Raja.

      Waktu yang dijanjikan tiba. Wanita itu datang menghadap Raja.

      "Kau boleh menerima zat itu sekarang!"

      Berkat kesaktian Raja Nyamuk, zat emas itu langsung berpindah ke dalam tubuh wanita itu. Tak lama, tubuh wanita itu berubah jadi besar. Sebaliknya, tubuh Raja Nyamuk semakin kecil. Anehnya, seluruh rakyat nyamuk tubuhnya ikut-ikutan mengecil. Sedangkan, semua manusia menjadi besar tubuhnya.

      Wanita itu gembira sekali. Dia sampai lupa mengucap terima kasih.

      "Ingat! Seminggu lagi kau harus mengembalikan zat emas itu!" teriak Raja mengingatkan.

      Sayang sekali, wanita itu tidak mendengar. Walaupun Raja sudah berteriak, sampai suaranya lirih.

      Seminggu yang dijanjikan telah berakhir. Tetapi, wanita itu tak kunjung tiba. Raja Nyamuk gusar. Ia sadar manusia telah menipu bangsanya. Raja amat marah. Lalu, ia pergi bersemadi. Ia hendak memohon sayap pada Yang Maha Kuasa.

      Permohonan Raja Nyamuk dikabulkan. Seluruh armada nyamuk tiba-tiba punya sepasang sayap. Kini, mereka bisa terbang. Berkelana mencari manusia yang menipunya.

      Nyamuk-nyamuk itu melihat manusia sedang bergembiraria. Mereka puas karena siasatnya berhasil.

      "Hai manusia! Cepat kembalikan zat emas kami!" teriak Raja Nyamuk marah.

      Manusia tidak menghiraukan teriakan Raja Nyamuk. Tentu, mereka tak mau mengembalikan zat emas itu. Mereka tak mau jadi kerdil lagi.

      "Serbu!!" perintah Raja Nyamuk.

      Para nyamuk ramai-ramai menyerbu manusia.

      Sejak itu nyamuk dan manusia saling bermusuhan. Setiap ada kesempatan, nyamuk selalu mengincar manusia. Mereka berusaha mengisap zat emasnya yaitu darah manusia. Sedangkan manusia berusaha membunuh nyamuk. Ya, mereka khawatir nyamuk akan mengambil zat emas dalam tubuhnya!*** (Rika Sartika Sri).

Sumber : Majalah Bobo

Author

Reni Yaniar Kidnesia

Tags

Related Article