Cerita Kirimanmu

Raja, Saudagar Dan Pencuri

Raja Saladin bermuram durja ketika penasihatnya mengajukan suatu masalah pencurian yang dilakukan seorang penduduk desa yang miskin. Si miskin itu  tertangkap tangan sedang mencuri sebutir semangka di kebun buah-buahan milik seorang saudagar kaya.   Semula Raja Saladin menerima kasus itu dengan sedikit heran. Bukankah seharusnya kasus sederhana ini dapat ditangani oleh pejabat daerah atau hakim setempat. Tetapi Hakim Daerah  memberikan alasan kuat bahwa persoalan itu merembet kemana-mana. Sebahagian penduduk menganggap sudah sepantasnyalah saudagar itu melepaskan si pencuri semangka yang miskin, sementara sebagian lain berpendapat bahwa mencuri tetaplah mencuri—tidak peduli sedikit atau banyak, jika mengambil barang yang bukan miliknya sendiri haruslah dihukum. Hakim Daerah  takut tak bisa berbuat adil, karena itu ia  menyerahkan penyelesaiannya di tangan  sang Raja.   Di dalam persidangan si pencuri semangka  berusaha membela diri bahwa apa yang dilakukannya tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan harta milik saudagar kaya.   “Kehilangan sebutir semangka tak akan membuatnya jatuh miskin, Tuanku,” katanya mengiba. ”Lagi pula ketika keluarga hamba menawarkan untuk mengganti semangka itu dengan sejumlah uang, saudagar itu menolaknya.”   Saudagar kaya itu segera membantahnya. “Ini bukan masalah besar atau kecilnya barang yang dicuri, tapi ini adalah pencurian. Hukum negeri kita jelas-jelas menyebutkan bahwa seseorang yang dengan sengaja menghilangkan atau mengambil barang milik orang lain tanpa izin pemiliknya, hukumannya adalah dipotong tangannya,” katanya keras. Tampak perasaan puas di wajahnya. Ia menyeringai  keji.   Raja Saladin merasa sedih melihat keduanya saling tuding dan berbantahan. Raja meminta waktu seminggu untuk memberi penyelesaian yang adil.   Seminggu telah berlalu, tibalah saat bagi sang Raja harus memutuskan perkaranya.    “Untuk pencuri semangka keputusanku adalah tangannya harus dipotong, karena mencuri tetaplah mencuri. Kecuali, orang yang dirugikannya itu memaafkan dan mengikhlaskannya, maka ia dapat terbebas dari hukuman ini.”     Raja Saladin melihat si pencuri semangka itu menangis terisak-isak. Sementara si saudagar kaya tampak menyeringai puas.   “Tetapi sebelum hukuman ini dijalankan aku akan menyidang seorang pencuri lainnya dan hukumannya akan diputuskan hari ini juga supaya tak banyak waktu yang terbuang percuma,” kata Raja sambil memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk menyeret terdakwa lainnya.   Masuklah ke dalam persidangan itu seorang pemuda tampan berpakaian bagus. Komentar pun berhamburan. Ada yang menyayangkan, ada pula yang merasa geram.   “Sayang sekali, tampan tapi pencuri!”   Saudagar kaya terperanjat kaget. Pencuri yang baru masuk itu adalah anak laki-laki kesayangannya. Ia berteriak-teriak marah.   “Itu fitnah, Tuanku! Mana mungkin putra hamba mencuri. Kami tak kekurangan harta!” teriaknya kalap.     “Sayang sekali, Tuan. Tapi  putramu ini tertangkap tangan mengambil kuda milik orang lain dan menyimpannya di dalam istal milik keluargamu,” kata Raja.   Putra sang saudagar menangis mengiba.   “Hamba tidak sengaja, Tuanku. Bukan maksud hamba mencuri. Hamba salah mengambil kuda. Saat itu gelap dan hamba agak mabuk… kuda-kuda itu berwarna hampir sama… jadi… jadi..” Ia menangis lagi.   Ayahnya, si saudagar kaya terduduk lemas. Hilang sudah seringai puas di wajanya.   Seseorang berkomentar keras. “Sudah mabuk mencuri pula. Mencuri tetaplah mencuri. Harus dipotong lengannya.” Hadirin bergumam menyetujui. “Betul… betul. Hukum saja mereka, Tuanku!” terdengar seruan di sana-sini.   “Bagaimana, Tuan? Hukuman yang adil, bukan?” kata Raja Saladin menyindirnya.   Saudagar kaya dan putranya serta si pencuri semangka  sama-sama menangis, memohon agar mereka diampuni.   “Wahai, Saudagar, kau meminta ampun supaya putramu tak dihukum. Bagaimana dengan nasib si pencuri semangka? Ia juga meminta ampun tapi kau tolak. Adalah tak adil jika aku hanya mengampuni putramu saja,” tegur Raja Saladin mengingatkan.     Dipenuhi  perasaan  malu dan sesal saudagar itu meminta sang Raja mengampuni si pencuri semangka dan ia ikhlas memaafkan. Pencuri semangka itu menyambutnya dengan hati bahagia. Ia pun benar-benar menyesali kesalahannya.     Pemilik kuda, yang tak lain adalah Raja Saladin, mengampuni kesalahan putra saudagar kaya. Untuk pelajaran bagi si pencuri semangka dan anak saudagar, Raja Saladin menjatuhkan hukuman bagi keduanya : bekerja  bakti membantu masyarakat selama tiga bulan. Bagaimanapun mencuri tetaplah mencuri. Raja juga memberikan denda pada saudagar kaya untuk memberikan pekerjaan bagi  pencuri semangka nantinya. Semua pihak baik saudagar dan putranya juga pencuri semangka serta pengunjung sidang menyetujui keputusan Raja Saladin yang bijak.     Sekembalinya di istana Raja bertanya pada penasihatnya. “Bagaimana bisa anak saudagar kaya itu mencuri kudaku, sementara aku tak pernah mengeluarkannya dari istalku sebulan ini?”     ”Maafkan hamba, Tuanku. Kami tahu anak saudagar itu sering mabuk-mabukan. Kami sengaja menjebaknya seolah dialah yang mencuri kuda Tuanku. Dan seperti yang diharapkan, Tuanku mampu memutuskan perkaranya dengan baik,” jawab Penasihat sambil menghormat dengan takzim. Raja Saladin tak marah, ia tahu maksud baik penasihatnya.[]